Segini Biaya Menjalankan Tim PVL di Tengah Banyaknya Tim yang Mundur, Bagaimana dengan Liga Indonesia?

Voltaks.com – Dunia bola voli Asia Tenggara tengah menyoroti kondisi Premier Volleyball League (PVL) Filipina) setelah sejumlah tim memutuskan untuk mundur dari kompetisi. Liga yang selama ini dikenal sebagai salah satu kompetisi voli pro di Flipina, kini dihadapkan pada tantangan serius terkait tingginya biaya operasional klub.

Menurut media Filipina spin.ph, mundurnya beberapa tim bukan semata persoalan prestasi atau minat kompetisi, melainkan berkaitan erat dengan beban finansial yang terus meningkat. Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: seberapa mahal sebenarnya menjalankan satu tim PVL, dan apa pelajaran yang bisa diambil oleh liga voli Indonesia?

Tim Juara Ikut Mundur

Dalam beberapa bulan terakhir, PVL kehilangan dua nama besar yang pernah mencicipi gelar juara, yakni Chery Tiggo Crossovers dan Petro Gazz Angels. Chery Tiggo resmi membubarkan tim pada Desember lalu, sementara Petro Gazz memilih mengambil jeda dari kompetisi pada awal musim.

Keputusan tersebut cukup mengejutkan publik voli Filipina, mengingat kedua tim dikenal memiliki struktur manajemen yang solid serta prestasi mentereng. Secara resmi, pihak klub menyebut adanya penyesuaian strategi bisnis sebagai alasan utama. Namun menurut media Filipina, faktor finansial menjadi latar belakang yang jauh lebih dominan.

Keluarnya dua tim juara ini menjadi pengurangan signifikan pertama sejak PVL memasuki era profesional, sekaligus memunculkan kekhawatiran tentang keberlanjutan liga dalam jangka panjang.

Biaya Operasional yang Terus Meningkat

Presiden PVL, Ricky Palou, mengakui bahwa biaya menjalankan satu tim di liga profesional Filipina mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Menurut media Filipina, satu tim PVL saat ini rata-rata membutuhkan dana sekitar 60 hingga 75 juta peso Filipina per tahun, atau setara dengan Rp15–19 miliar, hanya untuk memenuhi kebutuhan operasional dasar.

Biaya tersebut mencakup gaji pemain dan pelatih, staf pendukung, akomodasi dan transportasi selama kompetisi, logistik pertandingan, hingga operasional harian tim sepanjang musim. Angka ini belum termasuk biaya tambahan seperti rekrutmen pemain asing, program pengembangan, hingga aktivitas pemasaran klub.

Untuk tim-tim yang berada di bawah naungan grup korporasi besar, total pengeluaran bahkan bisa meningkat drastis. Disebutkan bahwa beberapa klub menghabiskan hingga 100 juta peso Filipina per musim, atau sekitar Rp25 miliar, demi menjaga daya saing di level tertinggi liga.

Dominasi Tim Korporasi

Saat ini, mayoritas tim yang bertahan di PVL merupakan tim yang memiliki dukungan finansial kuat dari grup perusahaan besar. Menurut media Filipina, dari sepuluh tim yang masih berpartisipasi, sebagian besar merupakan tim “saudara” yang berada dalam satu ekosistem bisnis yang sama.

Kondisi ini secara tidak langsung menciptakan kesenjangan finansial antar klub. Tim dengan sokongan modal besar relatif mampu bertahan meski biaya operasional melonjak, sementara klub dengan dukungan terbatas berada dalam posisi yang jauh lebih rentan.

Dalam jangka panjang, situasi ini dikhawatirkan akan mengurangi keberagaman kompetisi dan meningkatkan risiko mundurnya tim-tim yang tidak lagi sanggup menanggung beban finansial, terlepas dari prestasi mereka di lapangan.

Upaya PVL Menjaga Keberlanjutan

Menyadari tantangan tersebut, PVL mulai mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas liga. Salah satu kebijakan penting yang diterapkan adalah skema bagi hasil pendapatan liga.

Menurut media Filipina, PVL kini membagikan 30 persen dari total pendapatan tahunan liga secara merata kepada seluruh tim peserta. Pendapatan ini berasal dari hak siar, sponsor utama, dan kerja sama komersial lainnya.

Kebijakan ini menjadi langkah pertama PVL dalam membangun sistem yang lebih berkelanjutan, sekaligus upaya untuk meringankan beban finansial klub agar tidak semakin banyak tim yang memilih mundur dari kompetisi.

Meski demikian, skema ini dinilai belum sepenuhnya mampu menutup tingginya biaya operasional, terutama bagi klub-klub yang tidak memiliki sponsor utama dengan kekuatan finansial besar.

Peluang Ekspansi Masih Terbuka

Di tengah keluarnya beberapa tim, PVL menegaskan bahwa liga masih membuka peluang bagi masuknya tim baru atau investor baru. Menurut media Filipina, sejumlah perusahaan telah menunjukkan ketertarikan untuk bergabung, meski hingga kini belum ada keputusan resmi yang diumumkan.

Langkah ini diharapkan dapat menjaga jumlah peserta liga sekaligus memperluas basis bisnis PVL di masa depan. Namun, tantangan terbesar tetap terletak pada kemampuan calon peserta untuk menanggung biaya operasional jangka panjang.

Bagaimana dengan Liga Indonesia?

Situasi yang terjadi di Filipina menjadi refleksi penting bagi kompetisi voli di Indonesia, khususnya Proliga. Meski memiliki format liga, sistem pendanaan, dan skala bisnis yang berbeda, tantangan keberlanjutan klub tetap menjadi isu utama dalam liga profesional mana pun.

Di Indonesia, sebagian besar klub Proliga juga masih sangat bergantung pada sponsor utama. Ketika dukungan finansial melemah atau strategi bisnis berubah, keberlangsungan klub pun berpotensi terancam. Pengalaman PVL Filipina menunjukkan bahwa prestasi saja tidak cukup untuk menjamin kelangsungan sebuah tim.

Ke depan, liga voli Indonesia perlu terus memperkuat fondasi bisnis kompetisi, baik melalui peningkatan nilai hak siar, keterlibatan sponsor jangka panjang, maupun pengembangan ekosistem yang mendukung klub secara menyeluruh.

Pelajaran dari Filipina

Apa yang terjadi di PVL Filipina menjadi pengingat bahwa profesionalisme di dunia olahraga selalu datang dengan konsekuensi biaya yang besar. Tanpa sistem yang seimbang antara pemasukan dan pengeluaran, bahkan liga dengan popularitas tinggi pun bisa menghadapi krisis.

Bagi Indonesia, menjaga keseimbangan antara prestasi, pembinaan, dan keberlanjutan finansial menjadi kunci utama agar liga voli nasional dapat terus berkembang tanpa kehilangan klub-klub andalannya.

PVL Filipina mungkin sedang berjuang mencari bentuk terbaiknya, namun pengalaman ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi liga-liga lain di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk membangun kompetisi yang tidak hanya kompetitif di lapangan, tetapi juga sehat secara finansial.

Review Your Cart
0
Add Coupon Code
Subtotal